widyaiswara success presentation (4)


KOMUNIKASI EFEKTIF

 

Komunikasi adalah proses dimana seseorang atau kelompok mengirimkan informasi kepada orang lain atau kelompok lain sebagai penerima. Komunikasi merupakan penyampaian informasi dan pemahaman dengan menggunakan simbol baik verbal maupun nonverbal.

 

Komunikasi ini dibutuhkan untuk menyampaikan sebuah informasi sehingga seorang widyaiswara  bisa mentrta.ansfer pengetahuannya dengan mudah, dan sharing pengalaman antara peserta dengan widyaiswara, antara peserta dengan peserta dapat berjalan efektif. Komunikasi merupakan penyampaian informasi yang secara psikologis memberikan perhatian  baik kepada pihak komunikator maupun komunikan dan yang menjadi fokus utama adalah proses internal antara penerima dan pemberi pesan. Komunikasi ada beberapa jenis dan seorang widyaiswara dapat menggunakan jenis komunikasi lisan maupun tulisan untuk menyampaikan pesan atau materi yang diampunya kepada peserta diklat.

 

Komunikasi dalam hal ini adalah komunikasi dua arah yaitu antara widyaiswara dengan peserta maupun sebaliknya dimana jika komunikasi ini gagal maka gagal pula proses tranfer  baik itu knowledge maupun expert. Jadi dalam proses belajar mengajar harus terjadi proses komunikasi yang interaktif.

 

Tahapan tahapan dalam berkomunikasi terutama dalam proses pembelajaran dalam suatu pelatihan dimana widyaiswara sebaga komunikator dan audience sebagai komunikan.

  1. Tahapan pendahuluan atau pembukaan.

Widyaiswara pada awal sebuah sesi pertemuan maka akan menjelaskan kerangka pikir materi yang akan disampaikan. Sehingga terjadi kesiapan dalam bentuk konsentrasi antara komunikator dengan komunikan. Tahap pembukaan ini merupakan ajang perkenalan yang membutuhkan alokasi waktu sekitar 10 % dari total waktu yang dibutuhkan untuk melakukan penyajian materi. Meski alokasi waktu yang cukup sempit namun pendahuluan atau sesi pembukaan ini merukan sesi yang cukup penting dimana peserta widyaiswara sebagai pembicara harus bisa mendapatkan kesan yang baik bagi peserta sehingga peserta akan memberi perhatian terhadapa materi yang akan disampaikan. 

  1. Tahap isi

Dalam kontek ini widyaiswara menyampaikan seluruh materi yang disajikan secara jelas dan tuntas dengan alokasi waktu sekitar 85% yang memuat isi materi, diskusi dan tanya jawab. Ada kalanya karena waktu yang begitu panjang atau materi yang disajikan kurang menarik bagi peserta maka widyaiswara harus bisa membawa diri dan memaparkan materi yang diampunya secara gamblang dan berusaha untuk membuat audience tertarik. Hal ini bisa dilakukan jiak seorang widyaiswara sudah punya jam terbang yang cukup dan punya kemampuan dalam mengelola kelas dan memanajemeni proses pembelajaran.

  1. Tahap penutup

Merupakan sesi simpulan dari isi materi serta tindak lanjut dari materi yang disampaikan. Biasanya sesi penutup ini digunakan oleh widyiswara untuk memberi kesan terbaik sehingga peserta akan mengingatnya serta sesi untuk melakukan tanya jawab dan widyaiswara harus berusaha untuk memberikan jawaban yang sederhana dan bisa memberikan kepuasan kepada penanya.Alokasi waktu biasanya sekitar 5  % dari toatal alokasi yang disediakan.

 

Keberhasilan seorang widyaiswara dalam melakukan komunikasi bisa dilihat melului feedback yang diterimanya dari peserta, tingkat perhatian peserta terhadap widyiswara, daya tarik pesan yang disampaikan dan tercapainya tujuan pembelajaran. Komunikasi ini sangat penting dalam proses pembelajaran dan mutlak seorang widyaiswara harus mampu melakukan komunikasi efektif secara baik.

 

Berikut tip – tip yang bisa digunakan supaya widyaiswara dapat melakukan komunikasi yang efektif:

  1. Keep it simple, sebuah informasi usahakan disampaikan sesederhana mungkin sesuai tingkat pemahaman peserta, sesuaikan dengan kemampuan pendengar, dan jangan bergaya sok pintar karena dapat membuat anti pati bagi pendengar. Banyak widyaiswara yang lupa untuk menyederhanakan bahasanya, menggunakan kata kata njlimet yang mungkin susah diterima oleh orang lain yang mungkin disebabkan tingkat intelejensia, atau kebiasaan komunikasi yang berbeda akibat budaya yang berbeda pula.
  2. Lakukan komunikasi ini dengan ramah dan murah senyum.
  3. Sampaikan dengan santai tidak tegang dan tidak terburu buru.
  4. Ketika anda berdiri didepan kelas uasahakan penuh dengan kepercayaan diri, selalu berikan perhatian kepada peserta selalu pikirkan bahwa peserta adalah yang utama.
  5. Dekati audience jangan hanya berdiri dibelakang meja., tatap secara merata kepada seluruh peserta dan jika berbicara jangan membelakangi peserta. Jiak harus menulis di media white board misalnya janganlah sambil berbicara, tulis terlebih dahulu baru anda berbicara.
  6. Jangan bergaya sebagai bos atau pejabat, karena anda adalah widyaiswara seorang fasilitator. Gunakan bahasa yang membumi, jangan bangga dengan bahasa intelektual tinggi tapi tidak dapat dimengerti oleh peserta, sangat membosankan bukan jika anda mendengar kata kata yang tinggi yang tidak anda mengerti.
  7. Tidak kalah penting adalah body language anda, dengan bahasa tubuh yang menarik maka peserta akan memberi perhatian, jangan berdiri disatu tempat tetapi anda juga tidak bergerak mondar mandir. Dengan bahsa tubuh yang tepat maka esensi dari komunikasi dapat dipahami oleh audience.
  8. Jika perlu menggunakan bahasa humor, maka gunakanlah sesuaikan dengan kondisi yang ada.
  9. Pastikan intonasi anda bisa ditangkap oleh pendengar, nada bicara jangan terlalu pelan, variasikan sesuai dengan tingkat penekanan.
  10. Gunakan jawaban yang tidak menggunakan pertanyaan lanjutan untuk itu perlu mempersiapkan jawaban.
  11. Namun jangan lupa untuk tidak merancang kata kata selanjutnya jika lawan bicara sedang berbicara ’ never plan what you say when listening!’
  12. Komunikasi efektif ini dapat terwujud jika anda sering berlatih.

 

Banyak sekali buku buku yang membahas cara berkomunikasi efektif dan juga cara cara presentasi yang sukses, perbanyak pengetahuan anda dengan membaca buku bagaiman memberikan presentasi yang baik. Hindari bahasa tubuh berikut: tangan bersilang atau bergaya bos, menghindar dari pandangan mata, menunjut dengan jari tunggal, memasukan tangan kedalam kantong celana, bersembunyi dibelakang meja, berdiri dengan tubuh yang loyo.

 

Dalam berkomunikasi atau dalam memberikan materi usahakan jangan melakukan  gerakan tubuh yang sama secara berulang ulang, atau mengucapkan kata kata yang sama berulang ulang. Biasakan tidak menggunakan kalimat yang ambigo atau mempunyai beberapa arti. Seorang pembicara baik juga harus bisa menjadi pendengar yang baik. Berikan perhatian jika ada audience yang bertanya.

 

Komunikasi adalah sebuah kunci sukses namun banyak pembicara baik itu presenter, narasumber, termasuk widyaiswara yang gagal menerapkannya, alasan klasiknya adalah tidak percaya diri didepan forum, atau penampilan fisik yang tidak memadai, atau bahkan takut terlihat bodoh ketika mengucapkan sebuah pernyataan atau kalimat. Gunakan kata kata yang pas ditempat yang pas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s