WIDYAISWARA SUCCESS PRESENTATION(5)


LANGKAH AWAL SEBAGAI KUNCI

 

Begitu jam pelajaran dimulai peserta masih asik dengan pikirannya, masih berkhayal dengan apa yang baru dibicarakan dengan teman teman jika baru saja cofee break.  Intinya badan ada diruangan tetapi kepala masih tertinggal entah dimana, sehingga penyaji yaitu widyaiswara harus bisa membuat suasana atau pikiran peserta ada didalam kelas. Terlebih widyaiswara merupakan subjek dalam kelas yaitu sebagai fasilitator yang memandu proses belajar mengajar, kewajibannyalah untuk mengelola kelas.

 

Masih beruntung jika baru mengawali pembelajaran, sehingga bisa melakukan perkenalan dan pembukaan dulu yaitu sekitar 5-10 persen dari total jam pelajaran dimulai. Dengan melakukan perkenalan akan didapat suasana yang lebih nyaman bagi proses selanjutnya. Seperti dalam iklan yang sering kita lihat dan dengar di media elektronik yaitu kesan pertama begitu menggoda selanjutnya terserah anda.

 

Aha…. itulah salah satu metode bagaimana seorang widyaiswara mengambil hati peserta, jika sudah terlanjur cinta…segalanya oke saja, mungkin itu yang bisa menjadi pegangan bagi seorang widyaiswara. Namun hal ini tidak terlepas dari kemampuan  widyaiswara membawa diri dihadapan peserta, mau tampil kaku? Bagaimana hasilnya? Harus selalu diingat bahwa ini adalah pembelajaran orang dewasa, jangan pernah merasa pinter sendiri. Biarkan peserta sharing pengalaman, pancing peserta untuk berkomentar, hal ini bisa membuat suasana mencair. Jika sudah demikian  maka pembelajran dapat berjalan dengan lancar serta tujuan umum dan tujuan khusus dapat tercapai tinggal bagaimana anda menguasai materi. Tentunya jika tidak menguasai materi jangan sekali sekali memberanikan diri berdiri didepan kelas.

 

Bagaimana Membuat Suasana Nyaman?

 

Diam berarti emas tidak berlaku dalam hal ini.

Kebekuan yang ada harus dipecahkan.

Kekakuan yang ada harus dilemaskan.

 

Kelas dibuat senyaman mungkin, buatlah suasana menjadi ceria. Kemampuan seorang fasilitator, demonstrator dan aktor teruji disini. Seperti tertulis sebelumnya bahwa widyaiswara harus biasa mencairkan suasana. Ice breaker solusinya, dengan game game kecil maka suasana akan menjadi ceria, peserta yang tadinya menjaga jarak akan merasa dekat dengan widyaiswara. Peserta yang tadinya ingin menyerang dengan pertanyaan pertanyaan menguji akan banyak memberikan saran sehingga suasana kelas yang saling sharing pengalaman akan terwujud.

 

Ice breaker adalah sebuah cara untuk membuat peserta pendidikan dan latihan menjadi fokus terhadap materi yang akan kita sampaikan. Jika peserta sudah terkonsentrasi kepada widyaiswara sebagai pembicara maka diharapkan peserta akan menyadari pentingnya materi yang disampaikan oleh widyaiswara. Cara ini mempermudah peserta memahami seluruh materi yang disajikan sampai akhir. Dengan ice breaker suasana yang membosankan bisa menjadi menyenangkan, untuk itu ice breaker bisa dilakukan di awal pelatihan, dipertengahan sesi atau dilakukan di akhir sesi sehingga dengan dilakukannya salah satu ice breaker maka peserta yang mengantuk jadi terjaga kembali dan bisa konsentrasi, peserta yang tegang menjadi rileks. Menurut Dr. Adi Soenarno, MBA game game kecil yang ada di ice breaker dapat dilakukan ketika peserta dalam kondisi lelah, mengantuk, tidak saling kenal, nada bicara monoton tidak ada variasi, ketika pertemuan dilakukan setelah makan siang dimana merupakan jam jam mengantuk atau bahkan ketika peserta sudah saling kenal dan mereka saling berbicara sendiri.

 

Contoh game kecil:

  1. Sebelum acara dimulai widyaiswara sudah menyiapkan wortel, kelereng dan biji kopi. Kemudian widyaiswara meminta peserta untuk membayangkan benda benda tersebut, peserta diklat diminta memilih salah satu benda yang sesuai dengan karakternya atau benda yang paling disukai. Jika ruangan kelas memungkinkan peserta untuk berkumpul dengan orang yang sama sama suka dengan benda yang dipilihnya bisa diminta untuk berkumpul. Setelah semuanya berkumpul barulah widyaiswara menjelaskan masing masing benda tersebut. Pembahasannya dengan kata kunci di kenai panas:

          kelereng yang dikenai panas tidak berubah, menunjukan betapa  kakunya sifat orang tersebut dan tidak bergeming.

          Wortel begitu terkena panas mudah lembek dan tidak baik untuk orang yang mudah patah semangat, jika tidak dapat kesempatan mudah ngambek.

          Kopi jika terkena panas akan hancur apalagi jika di campur air panas, baunya akan harum dan banyak sekali orang yang menyukainya. Demikian harapan kita bersama setelah mengikuti pendidikan dan pelatihan yang diumpamakan air panas maka peserta akan mengharumkan ruangan dan area kerjanya sehingga menjadi pusat perhatian orang orang yang bekerja dengannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s